Lobo Porelea, Wunca, dan Rego


Bulan lalu selesailah sudah. 
Kayu yg diambil dari hutan secara berpasang-pasangan sudah membentuk wujudnya.
Berdiri kokoh,teguh,berwibawa. Lobo desa Porelea telah selesai. Berdiri dgn kokoh pada punggungan bukit. Butuh 70 hari untuk membangunnya. Ini gambaran dari bangkitnya hukum-hukum tradisi. Bagian dari Plurarisme Hukum yang coba didokumentasi oleh rakyat. Peresmian ini dilakukan oleh Bapak Bupati Kabupaten Sigi M Irwan Lapata.
 Rasa syukur atas kerja keras mereka diwujudkan dengan "Mowunca" atau pesta syukuran.
"Kami telah selesai membangun Lobo,panen hasil bumi juga cukup memuaskan,makanya acara peresmian Lobo ini kami rangkaikan dgn Wunca atau Mowunca". Ujar Pak Karel Kepala Desa Porelea. Prosesi Mo Wunca dilakukan dengan cara memanjat batang pinang dan saling merebut hasil panen yang di gantung di puncaknya. Tradisi ini telah dilakukan sejak beratus-ratus tahun yang lalu.
Malam itu setelah Wunca acara dilanjutkan dgn Mo Rego atau Mo Raego.
Sebuah tarian tradisi To Po Uma. Tarian yg sekaligus menggambarkan daur hidup.
Setiap peristiwa ada Regonya. Dari membuka hutan,menanam, memanen,dan peristiwa-peristiwa lainnya tergambar pada Rego. Yg membedakan hanya syairnya. 
Konon Tarian ini berasal dari penglihatan seorang pemburu yang melihat jamur didalam hutan yang bergerak dan bernyanyi. Pemburu itu kemudian menirukan gerak dan lagu itu dalam tarian ini.
Malam menjelang pagi mantra dan syair memenuhi udara dalam lingkaran Rego,mengalun memenuhi ngarai dan lembah Pegunungan Tokalekaju. Tanah Pipikoro. Tanah To Po Uma. Tanah yang terberkati.
 Kami hanya mencoba mencintai Indonesia dengan memahami pranata-pranata sosial yg ada.
Salam Karsa Institute Sulteng.


















Posting Komentar

copyright Warta Pataka | Designed by OddThem