MORUMPU BARU (MENGUMPULKAN SAGUER) Sebuah Tradisi TO PO UMA




Siang yang dingin menyambut kami.. Mendung masih menggantung pada ujung cakrawala,tanda matahari enggan menyapa.
Perjalanan seharian ini terasa mengasyikan,melewati ngarai dan lembah Pegunungan Tokalekaju, dengan siraman hujan yang cukup lebat. pelan dan hati-hati.
Di ujung kampung Porelea ,senyum ramah penduduk menyapa. Senyum yang menyejukan hati. Mereka telah menunggu dengan keyakinan kami pasti tiba.
Tidak sempat melepaskan penat,kami diajak pada sebuah kebun. Wajah-wajah ceria tergambar jelas pada mereka yang menyambut kami di kebun itu.






                                                                                                         



Prosesi Morumpu Baru,atau mengumpulkan saguer akan segera di mulai.
Dibawah pohon aren tenda terpal telah terpasang. Perempuan dan anak-anak bercakap riuh.Asap membumbung dari api yang dibuat untuk mengusir nyamuk.
Suasana berubah tenang. Beberapa orang pemuka adat berdiri dibawah pohon aren.
Doa-doa dan mantra melantun..Doa syukur untuk pemilik alam. Sirih pinang,dan sedikit makanan diletakkan diantara ijuk yang melekat pada pohon aren yang akan di panen airnya.
Seseorang berdiri menghadap pohon...Rupanya dia kena denda karena melecehkan pemilik kebun ketika mulai berniat untuk mengumpulkan saguer.atau morumpu baru.
Dalam kebiasaan To Po Uma melecehkan orang yang berniat melakukan pengumpulan saguer akan di kenakan denda. Sanksi denda berupa makanan dan yang bersangkutan akan menerima hukuman dicambuk dengan lidi aren serta disiram saguer (Baru). Orang tersebut juga harus menghabiskan saguer yang disediakan untuknya dalam sebuah ruas bambu yang panjang.



Acara prosesi ini dilanjutkan dengan makan bersama-sama bagi semua yang hadir.






Malam terasa lambat...Canda tawa masih tersisa. Suara serangga malam terdengar sayup diiringi musik "Talunte" alat musik dari bilah bambu.


Syair-syair tua tentang perjalanan dari lembah ke lembah,dari ngarai ke ngarai mengikuti musim,mengikuti arus sungai lairiang. Porelea kami pasti kan datang.

Posting Komentar

copyright Warta Pataka | Designed by OddThem