Membangun LOBO Desa Porelea (Mengingat Cerita,Menggali Sejarah dan Menciptakanya)



Hutan ini lembab dan basah...
Hujan tadi siang masih tersisa,gerimis membasahi pucuk-pucuk pohon... Bau tanah basah dan segarnya daun memenuhi rongga dada.. Ini wangi hutan.



Pada sebuah tempat yang agak lapang,didepan sebatang pohon besar,dia berdiri. Mulutnya berkomat-kamit,entah bicara pada siapa? Mengamati pohon itu,dari akar sampai ke dahan.
Mulutnya masih bergumam tak jelas,sambil mengelus-ngelus batang pohon itu.
Dia berbalik dan menatap orang-orang yang menunggunya. Tersenyum tipis dan menganggukan kepala. Anggukan pasti sebagai tanda bahwa benar "inilah pohon itu !!"
Pohon yang akan dijadikan tiang Dasar Lobo dan Tiang Raja Lobo. Anggukan itu juga adalah tanda untuk menebang.



Lelaki itu Tama Eni anggota dewan adat desa Porelea lelaki tua yang bijak.
Dalam rumpun keluarga To Po Uma hanya keluarga merekalah yang memiliki karunia untuk mengenali jenis-jenis kayu bahan pembuatan Lobo. Beta'u,Pilio,Ncilobo,Pakanangi ini nama-nama kayu itu.
"Kayu-kayu itu harus berpasangan".katanya menjelaskan.








Ini cerita dua minggu yang lalu.
Sekarang... Kayu-kayu itu sudah terkumpul,bertumpuk pada tanah lapang kecil. Disini Lobo itu akan dibangun.
Tenda terpal sudah berdiri... Didekat tumpukan kayu seekor babi dan dua ekor ayam terikat. Ini hewan kurban dalam prosesi adat pembangunan Lobo.
"Parawatu" atau batu landasan Lobo hari ini akan dibasahi darah korban. Ritual warisan dari jaman purba.





Ibadah syukur dilakukan mengawali prosesi adat itu. Orang-orang khimad mengikuti ibadah ini. Ketika ibadah selesai, prosesi adatpun segera dimulai.





Diatas "Parawatu" diletakan perlengkapan ritual. beberapa jenis daun,parang tua sisa saat membuka kampung, bingka dari anyaman pandan dan nampan untuk meletakan sirih pinang.
Parang tua sisa pembukaan kampung di angkat keatas kepala seseorang.
Orang itu renta dan tua,tangannya menggenggam bilah-bilah bambu. Itu ukuran untuk pembuatan Lobo.
Hewan kurban telah tersembelih,oraeng tua itu bicara lantang dalam irama To Po Uma meminta sang Khalik merestui prosesi ini.





Kami membangun Lobo untuk menjaga tradisi.
Kami membangun Lobo untuk mewariskan sejarah.
Senja yang indah di Porelea menutup prosesi itu.
Aku masih berdiri didekat Parawatu mencoba mengingat apa kata nenek moyang,"Lobo itu bangunan tahan gempa".itu kata mereka.

Tanah masih basah,tapi kami harus pulang.
Tiga hari yang penuh makna dalam belantara Pegunungan Tokalekaju.
Menelusuri kembali jalan kecil pada punggungan gunung. Sungai lairiang menemani perjalanan ini.
Pipikoro,Toratima dan manusia-manusia tangguh.
Suatu saat aku pasti kan kembali.


















  














Posting Komentar

copyright Warta Pataka | Designed by OddThem