Dari pembeli menjadi penjual kopi

Desa  Porelea salah satu desa penghasil kopi pipikoro  | Foto Budiansya 
Warga desa Porelea adalah “penyuka kopi”, kopi adalah kebutuhan harian. Hampir tidak ada warga di desa ini yang tidak suka minum Kopi. Mau perempuan ataupun laki-laki. Tua, muda atau bahkan anak-anak. Selain itu,hampir setengah dari warga di Porelea memiliki kebun Kopi. Komoditi ini merupakan salah satu sumber penghasilan disamping tanaman kakao. Porelea bahkan tercatat sebagai salah satu lumbung kopi terbesar di Pipikoro, setelah  desa  Peana dan Pelempea.

Ironisnya, meskipun berstatus sebagai penghasil biji kopi, desa Porelea, juga merupakan pasar bagi kopi bubuk yang disuplay dari luar Desa Porelea. Dengan kata lain, warga Porelea menjual kopi biji kemudian membeli kembali dalam bentuk kopi bubuk. Konidisi ini mirip dengan analogi, menjua lpisang, untuk membeli  pisang  goreng.  Kondisi yang
menunjukan contoh kecil kekacauan “tata produksi  dan tata konsumsi” di wilayah perdesaan.

Namun sekarang ini, situasinya telah berubah. Sejak beroperasinya industry penggilingan kopi bubuk Porelea, warga Porelea telah memiliki kopibubuknya sendiri. Mereka tidak lagi terlalu berminat menjual Kopi dalam bentuk biji, apalagi membeli kopi bubuk dari luar desa. Mereka sudah “menguasai” pasar kopi di dalam desanya.

Sebelum ini, setiap bulan, secararutin 11 (sebelas) kios yang ada di Porelea membeli paling kurang 1 ball atau 300 bungkus kopi bubuk Sariwangi dan Bintang Harapan ukuran 40 gram dari Toko-toko besar di Gimpu, yang terletak di kecamatan tetangga (Kulawi selatan). Kedua merek kopi itu disorder dari agen- agen pemasaran di Kota Palu. Jika harga setiap bungkus kopi Rp 4000 maka bias diperkirakan jumlah uang dari dalam desa yang tersedot keluar desa mencapai Rp 20.000.000setiap bulannya. “IK Porelea dibentuk untuk mengorganisasikan pengelohan komodity kopi di Porelea dengan maksud untuk meningkatkan nilai tambah bagi rumah tangga dan desa “

Dengan demikian secara financial IK Porelea telah berperan dalam menahan sejumlah uang keluar dari desa,  dan mendorong peningkatan perputaran uang di dalam desa. Disamping  itu, dalam  konteks  produksi, IK Porelea sesungguhnya memulai transformasi system produksi pertanian yang mulanya berbasis pada produksi dan pemasaran bahanbaku (raw material) menjadi produski produk hasil olahan. Secara ekonomi pergesaran produksi pertanian kepada hasil olahan pertanian, meningkatkan pertambahan nilai (added value) yang  dapat diterima oleh petani maupun pedagang. Proses produksidanpengolahan bahan baku yang dilakukan di IK Porelea juga menyediakan lapangan kerja tambahan, untuk mengerjakan pengolahan dan seleksi bahan baku, operasi mesin penggilingan, pengemasan dan permesinan (mekanik). Dan terpenting, IK Porelea merupakan usaha milik desa, dikelola kelola dan digerakan oleh warga desa Porelea,dan secara manejerial bertanggung jawab kepada Desa.

IK Porelea kelompok usaha ini dibentuk untuk mengorganisasikan pengelolaan komoditi kopi di Porelea, dengan maksud untuk meningkatkan nilai tambah bagi rumah tangga dan Desa. IK Porelea di gerakan oleh kader-kader program, sejak pembentukan hingga saat ini kelompok ini di ketuai oleh Pak Agus Dedi. Pembentukan IK Porelea dimulai dengan diskusi panjang,baik dengan masyarakat Petani kopi maupun Pemerintah. Diskusi itu meliputi, pertukaran gagasan mengenai nilai penting dan strategis pengelolaan hasil pertanian. Dalam moda produksi petaniyangsemisubsisten,gagasan ini dipandang sebagai hal yang baru.
Proses penggilangan kopi | Foto : Budiansyah


IK Porelea dirintis sejak tahun2013,pada saat itu melalui program Peduli (PNPM Peduli) gagasan ini berakibat pada munculnya moda produksi baru, yang sebelumnya tidak pernah dijalankan. Karsa maupun masyarakat sepenuhnya menyadari Pelaksanaan gagasan ini akan membutuhkan sejumlah penyesuaian perilaku produksi dan konsumsi, serta perombakan mata rantai pemasaran yang akan melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi. Ini bukan tantangan mudah, karena juga menyangkut relasi social dalam hubungan produksi. Tantangan ini dijawab melalui pertemuan dan diskusi informasi dengan berbagai kalangan di dalam desa. Proses ini memungkinkan gagasan untuk mengubah tata produksi dan konsumsi kopi di dalam desa menjadi dapat diterima, dipahami dan memperoleh dukungan secara konseptual.Terpenting perombakan system produksi dan pemasaran kopi di dalam desa dilakukan tanpa harus “mengorbankan” peran dan posisi pelaku ekonomi di dalamdesa. Sebaliknya para actor seperti petani kopi, kios di integrasikan (tidak diletak terpisah dari IK Porelea) dan menjadi penggerak utama dalam tata produksi kopi Porelea. Dimana peran tradisional mereka sebagai pemasok bahan baku, penampung dan pemasar prudok tetap dipertahankan.



Pertemuan lebih formal juga dilakukan dalam membicarakan peran-peran setiap pihak dalam system produksi Kopi di Porelea. Diskusi ini bahkan sampai membicarakan jumlah dan bentuk aliran produk, baik bahan baku maupun bahan, standarisasi produk dan tahapan waktu produksi. Dengan lembaga formal (pemerintah desa) pertemuan dilakukan untuk membicarakan status dan kedudukan IK Porelea dalam desa Porelea. Berapa dan bagaimana mekanisme pembagian hasil dari IK kedalam APB Desa Porelea dan bagaimana peran pemerintah dalam mendukung IK Porelea. Selain menyiapkan berbagai prasyarat social tersebut, Karsa Institute juga melakukan rangkaian pelatihan peningkatan kapasitas misalnya ; manajemen usaha kecil, kewirausahaan dan pemasaran. Serta memberikan bantuan peralatan mesin penggilingan kopi dan mesin pengupas kulit kopi. Kemudian untuk memudahkan pemeliharaan dan pengoperasiannya alat mesin tersebut dipusatkan di sebuah rumah industri yang dibangun masyarakat secara swadaya.

Pada bulan januari 2014, IK Porelea telah membayarkan bagi hasil keuntunganusaha,untuk menjadi Pendapat Asli Desa Porelea,senilai Rp 2.000.000, - secara financial nilai ini barangkali kecil. Namun secarasocial,arti dari nilai ini sangat besar,karena menjadi tonggak pembangunan kemandirian anggaran. Perlu digarisbawahi, dalam penyelenggaraan pemerintah di Porelea, atau Pipikoro, bahkan kabupaten Sigi secara keseluruhan, Baru pertama kali dalam sejarah pemerintahan desa, ada desa yang mencatatkan pendapatan yang bersumber dari Pendapatan Asli Desa. Terlebih lagi dari pos usaha desa. Persitiwa ini secara psikologis menimbulkan keyakinan masyarakat akan keniscayaan untuk mewujudkan kemandirian anggaran desa.

Pengemasan dilakukan secara sederhana | foto : Budiansyah
Kemudian pada level rumah tangga petani kopi, pengembangan Industri Pengolahan Kopi secara nyata telah berpengaruh pada strtuktur pendapatan rumah tangga. Karsa mengkalkulasikan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian kopi setiap bulannya rata-rata Rp 120.000, dengan adanya penggilingan kopi rumah tangga pemilik kopi yang jumlahnya tidak kurang dari  90 KK setidaknya tidak perlu lagi mengeluarkan belanja kopi. Dan selain menghemat, rumah  tangga  pemilik  kopi sebaliknya  dapat memperoleh tambahan pendapatan yang bersumber dari margin harga pasar biji kopi dengan bubuk kopi. Harga biji kopi dipasaran

Gimpu berkisar antara (fluktuatif) Rp 17.000 sampai dengan Rp 21.000, per kilogram. Setiap kilo harga tersebut dikurangi dengan biaya angkut Rp 1000, - per kilogram. Ketika diolah menjadi bubuk, setiap Kilogram Kopi bisa menghasilkan 500 gram Kopi Bubuk. Dalam kemasan 100 gram, kopi bubuk setelah diukuran harga pokok produksi bisa dikenai harga Rp 10.000 perbungkus. Sehingga setiap kilogram kopi harganya bisa menjadi Rp 50.000, - atau selisih Rp30.000 per kilogramnya.
 | Penulis : Budiansyah

Posting Komentar

copyright Warta Pataka | Designed by OddThem